Senin, 30 Mei 2011

PERAN MAHASISWA DALAM MENCEGAH PAHAM RADIKAL YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Fenomena radikalisme keagamaan kembali marak dan meresahkan masyarakat. Rangkaian peristiwa pengiriman bom buku, bom bunuh diri, bom di Serpong, dan terendusnya jaringan Negara Islam Indonesia (NII) di berbagai kampus menjadi fakta pendukungnya. Meski beragam analisis di balik pemunculan kembali gerakan ini, yang pasti NII sangat mengancam paham kebangsaan dan mengganggu ketenteraman.
Pemunculan kembali radikalisme yang banyak beririsan dengan terorisme menunjukkan gerakan politik keagamaan ini terus berkembang dan memperluas jaringan. Radikalisme menyeruak dan menginfiltrasi kalangan terpelajar dan para mahasiswa di berbagai kampus. Jika terus dibiarkan dan kita lengah, mereka tentu akan mudah mengampanyekan paham mereka ke pedesaan dengan propaganda pemberian obat jitu penyirna krisis dan kesulitan hidup.
Agar jaringan radikalisme tak terus meluas, kita semua perlu memahami kompleksitas persoalan dan bagaimana cara menyelesaikannya. Radikalisme tentu tak hanya terkait pemaksaan interpretasi keagamaan yang cenderung menyimpang dan kaku, tetapi juga berkelindan dengan gejala krisis sosial-ekonomi-politik.









BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Radikalisme
Radikal berasal dari bahasa latin "Radix" yang artinya akar (pohon). kata radikal diartikan sebagai Pemahaman yang mengakar. Orang yang Radikal (Radical, adjektif) sebenarnya adalah orang yang memahami sampai keakar-akarnya dan karena itu mereka memegang teguh sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti sampai keakarnya.
 Setiap orang haruslah dihimbau untuk menjadi orang yang radikal. untuk memahami suatu permasalahan sampai keakarnya atau tahu ilmunya sampai keakar-akarnya. orang yang diradikal (Tidak tahu sampai keakar-akarnya)acenderung sebagi orang yang asal bunyi.
 terma politiklah yang menjadikan kata radikal mengandung makna negatif seperti sekarang.makna radikal di masyarakat lebih identik dengan kekerasan, orang yang selalu menentang pemerintah atau golongan garis keras.
Suatu bentuk diradikalisasi yang dilakukan oleh zionis yaitu menghilangkan pemahaman-pemahaman atas agamanya samapi keakar-akarnya. bukti nyata diradikal yang di alami oleh umat muslim yaitu hilangnya keyakinan ketuhanan dan masyarakat muslim beranggapan agama hanyalah urusan ibadah salain itu agama tidak mengajarkan.
Dengan sedikitnya pemahaman tentang agama mereka (zionis) dengan mudah mempengaruhinya untuk membenci agamanya atau ajaran-ajaran tertentu yang tidak ia ketahui.
Secara demikian pengertian radikalisme, adalah satu paham aliran yang menghendaki perubahan secara drastis (Kamus Besar Bahasa Indonesia Ikhtiar Baru :l995) dalam penjelasan lebih lanjut, aliran paham politik dimaksud menghendaki pengikutnya perubahan yang ekstrem sesuai dengan pengejawantahan paham mereka anut.




Peran Mahasiswa Dalam Mencegah Paham Radikal yang Berkembang di Masyarakat
Meningkatnya kasus radikalisme saat ini tak lepas dari lemahnya sikap pemerintah dalam mengatasi tumbuhnya kelompok atau perseorangan yang menyimpang dari komitmen NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.
            Tak adanya sikap tegas pemerintah membuat TNI/Polri ragu bertindak. Masyarakat juga kurang peduli terhadap masalah ini. Kondisi ini bisa berkembang di lingkungan masyarakat luas. Padahal, melawan radikalisme atau teroris paling efektif adalah adanya partisipasi warga masyarakat membantu aparat keamanan.
Lalu bagaimana peran mahasiswa dalam mencegah paham radikal yang berkembang di masyarakat?
Kampus yang selama ini dikenal sebagai tempat persemaian manusia berpandangan kritis, terbuka, dan intelek, ternyata tidak bisa imun terhadap pengaruh ideologi radikalisme. Radikalisme menyeruak menginfiltrasi kalangan mahasiswa di berbagai kampus. Dari masa ke masa di lingkungan kampus hampir selalu ada kelompok radikal baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme. Yang tidak kurang kalah penting adalah revitalisasi lembaga, badan, dan organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Organisasi-organisasi yang ada di kampus memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme ini melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang komprehensif dan kaya makna. Disini peran mahasiswa dalam mencegah paham radikal berkembang.
          Keanggotaan dan aktivisme organisasi merupakan faktor penting untuk mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal yang ekstrem. Sebaliknya terdapat gejala kuat para mahasiswa yang non aktivis dan kutu buku sangat mudah terkesima sehingga segera dapat mengalami cuci otak dan indoktrinasi pemikiran radikal dan ekstrem. Mereka cenderung naïf dan polos karena tidak terbiasa berpikir analitis, kritis, seperti lazimnya dalam kehidupan dunia aktivis.
          Menggalakkan propaganda anti radikalisme seharusnya menjadi salah satu agenda utama untuk memerangi gerakan radikalisme dari dalam kampus. Peran itu menjadi semakin penting karena organisasi mempunyai banyak jaringan dan pengikut sehingga akan memudahkan propaganda-propaganda kepada kader-kadernya. Jika ini dilaksanakan dengan konsisten, maka pelan tapi pasti gerakan radikalisme bisa dicegah tanpa harus menggunakan tindakan represif yang akan banyak memakan korban dan biaya.
Perlu langkah strategis, inovatif, terpadu, sistematis, serius, dan komprehensif. Yang diperlukan bukan hanya pendekatan keamanan dan ideologi, tetapi juga memerhatikan jaringan, modus operandi, dan raison d’entre gerakan ini. Perlu perpaduan langkah ideologis, program deradikalisasi melalui masyarakat sipil, serta pendekatan ekonomi dan sosial. Ini guna mencegah para mantan aktivis gerakan radikal dan teroris agar tak kembali pada komunitas lamanya. Program ”memanusiakan” ini, juga jadi salah salah satu prasyarat mencegah meluasnya aksi radikalisme dan terorisme (Noorhaidi Hasan, 2010).
Untuk menjalankan langkah itu, pemerintah harus berdiri di garda depan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan warga negaranya. Ketegasan dan keseriusan negara dalam melindungi warganya, menciptakan rasa aman, serta mencegah aksi kekerasan akibat radikalisme keagamaan ini menjadi amanah konstitusi yang mendesak dilakukan. Dalam hal ini, pemahaman kembali Pancasila sebagai pilar bangsa dan pilihan terhadap paham keagamaan yang toleran dan moderat harus menjadi agenda yang dipertimbangkan. Ketegasan negara dan dukungan masyarakat tentu akan jadi kekuatan strategis guna membendung proliferasi radikalisme keagamaan ini.

Kesimpulan
Peran mahasiswa mencegah paham radikal yang berkembang di masyarakat :
a.      Menggalakkan propaganda antiradikalisme di kalangan kampus dan masyarakat sekitar
b.      Mendesak pemerintah untuk bertindak tegas terhadap paham radikal
c.       Mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur antiradikalisme di tengah masyarakat